Jumat, 24 April 2009

azolla

Potensi Azolla (Azolla Pinnata) sebagai Pakan Berbasis Lokal


Oleh: Marhadi



Kebutuhan para peternak akan pemenuhan pakan ternak membuat pemerintah berupaya melakukan impor bahan pakan diantaranya jagung, kedelai, tepung ikan dan lain sebagainya sehingga lambat laun harganya semakin mahal dan para peternak tidak bisa menutupi output yang semakin besar yang akan dikeluarkan.hal itu tercermin pada saat terjadi resesi ekonomi pada tahun 1997 dimana banyaknya jumlah para peternak yang tidak bisa meneruskan usaha peternakannya dan terpaksa harus menutupi usahanya tersebut akibat melonjaknya harga pakan import.

Sebagai alternatif yang bisa memecahkan persoalan mengenai pakan, kita didorong untuk berpikir kreatif dan berusaha menggali, serta mendayagunakan segala potensi yang ada guna memecahkan persoalan tersebut diantaranya dengan memanfaatkan potensi pakan lokal sebagi pakan ternak, pakan lokal tersebut tentu saja harus memenuhi kriteria baik ditinjau dari aspek nutrisi, ekonomi, sosial budaya, dan haruslah pula memperhatikan tingkat keberlanjutannya sehingga dapat menjadi sumber bahan pakan yang terus tersedia, murah, mudah didapatkan, tidak menimbulkan polusi, dan masih sesuai dengan budaya masyarakat, sehingga nantinya mudah untuk diterima dikalangan masyarakat tersebut.

Pakan lokal adalah sumber bahan pakan yang keberadaannya berada diIndonesia dan berada disekitar masyarakat peternak yang jumlahnya sumber bahan pakan tersebut bisa memenuhi sebagai sumber bahan pakan. Sumbar bahan pakan lokal tersebut salah satu diantaranya adalah Tanaman Azzolla yang keberadaannya sering dijumpai dimasyarakat, terutama terdapat pada tanaman padi sawah, tanaman ini dapat digunakan sebagai pupuk hijau (PUJO), pakan ternak seperti Pseudoruminansia( Kelinci, kuda dll), ternak ruminansia(Kambing, sapi, domba, dll), ternak non ruminansia (ayam, bebek, itik, angsa dll) monogastrik (babi) dan dapat pula dimanfaatkan sebagi pakan ikan(lele, patin, nila, bawal dll).

Azolla adalah jenis tumbuhan paku air yang mengapung banyak terdapat di perairan yang tergenang terutama di sawah-sawah dan di kolam, mempunyai permukaan daun yang lunak mudah berkembang dengan cepat dan hidup bersimbosis dengan Anabaena azollae yang dapat memfiksasi Nitrogen (N2) dari udara. Azolla pinnata merupakan tumbuhan kecil yang mengapung di air, terlihat berbentuk segitiga atau segiempat. Azolla berukuran 2-4 cm x 1 cm, dengan cabang, akar rhizoma dan daun terapung. Akar soliter, menggantung di air, berbulu, panjang 1-5 cm, dengan membentuk kelompok 3-6 rambut akar. Daun kecil, membentuk 2 barisan, menyirap bervariasi, duduk melekat, cuping dengan cuping dorsal berpegang di atas permukaan air dan cuping ventral mengapung. DiIndonesia Azolla dikenal dengan nama Mata lele, sedangkan nama lokal azolla adalah mata lele (Jawa), kayu apu dadak, kakarewoan (Sunda) keberadaannya secara alami memang melimpah, namun tidak mendapat perhatian yang baik.

Tanaman azolla tersebar luas di daerah persawahan padi, tumbuh pada permukaan air, cepat dapat menutup permukaan air, namun tidak mengganggu pertumbuhan padi. Azolla tumbuh cepat, produksinya tinggi dan tersedia sepanjang tahun sehingga potensial sebagai bahan pakan kelinci, yang dapat diberikan segar maupun dalam bentuk kering. Berdasarkan hasil penelitian SASKIARDI (1986), azolla dapat digunakan sebagai pengganti kacang hijau dalam ransum kelinci Lokal sampai sebanyak 10%, tanpa mempengaruhi bobot badan, maupun persentase karkasnya. Pertambahan bobot hidup harian yang diperoleh dari penggantian kacang hijau dengan azolla sebanyak 2,5; 5; 7,5 dan 10% berturut-turut 11,64; 9,29; 8,71 dan 6,85 g dengan persentase karkas sebesar 49,69; 52,28; 54,07 dan 50,69%. Penelitian lain menggunakan Azolla microphylla yang dibuat konsentrat protein daun (KPD) sebagai sumber lisin alami untuk kelinci telah dilakukan oleh LESTARI, et al. (1997).

Azolla sangat kaya akan protein, asam amino penting, vitamins ( vitamin A, Vitamin B12 Dan Beta- Carotene), perantara Penyelenggara Pertumbuhan Dan Mineral seperti kalsium, fosfor, kalium, besi, tembaga, magnesium dan lain lain. Pada keadaan kering mengandung 25- 35 persen protein, 10- 15 persen mineral dan 7- 10 persen asam amino, unsur bio-active dan bio-polymers, Karbohidrat dan kadungan lemak azolla sangat rendah. Komposisi Bahan gizinya membuat azolla sebagai bahan pakan yang efektif dan efisien untuk ternak, ternak dengan mudah mencerna azolla, oleh karena berhubungan dengan kandungan proteinnya yang tinggi dan kandungan lignin yang rendah, dan pertumbuhan ternak lebih cepat, selain itu adalah mudah dan ekonomi untuk dikembangbiakkan (P. Kamalasanana Pillai, et al. 2002). Protein kasar yang ditemukan oleh Sreemannaryana et Al. ( 1993) dan Subudhi Dan Singh ( 1977); Fujiwara et Al. ( 1947). Singh ( 1977) melaporkan bahwa protein kasar pada Azolla berubah-ubah dari 25-37.36 persen.

Kandungan estrak eter Azolla adalah 3.47 persen. Meskipun demikian komposisi dapat berubah-ubah, tetapi hasil serupa telah dilaporkan oleh Subudhi& Singh ( 1977) dan Sreemannaryana et Al. ( 1993). Tetapi variasi pada nilai ekstrak eter telah dilaporkan oleh Ali Dan Lesson ( 1995) dan Querubin et Al. (1986B). Mereka menemukan 1.58 dan 2.63 persen ekstrtak eter. Pada sisi lain, Buckingham et Al. ( 1978) dan Fujiwara et Al. ( 1947) melaporkan bahwa kandungan ekstrak eter pada azolla adalah 5.1 dan 4.4 persen. Tingkatan Serat kasar tepung Azolla adalah 15.71 persen. Hasil tersebut serupa dengan pengamatan Querubin et Al. ( 1986B) mengenai Azolla Pinnata.

Dari berbagai penelitian tersebut sudah semakin nyata bahwasanya azolla memiliki potensi untuk dimanfaatkan dan dikembangkan diindonesia sebagai sumber bahan pakan apabila dilihat dari kandungan nutriennya, kemampuan berkembang biaknya dan kegunaannya sebagai bahan pakan dapat meningkatkan bobot potong kelinci, dengan demikian pula dibutuhkan penelitian lebih lanjut terhadap pemanfaatan azolla sebagai pakan ternak, misalnya campuran ransum ayam, babi, sapi domba atau kambing.


Pustaka:

Ali, M.A. and S. Leeson, 1995. The nutritive value of some indigenous Asian poultry feed ingredients. Anim. Feed Sci. and Tech., 55:227-237.

Fujiwara, A., I. Tsuboi and F. Yoshida, 1947. Fixation of free Nitrogen in non-leguminious plants. Azolla pinnata (In Japaneses) Nogaku, 1:361-363.

Lestari, C.M.S., A. Muktiani, H.I. Wahyuni dan J.A. Prawoto. 1997. Evaluasi Azolla mycrophylla sebagai sumber lisin dan pengaruhnya terhadap penampilan karmas kelinci. Majalah Penelitian, Lembaga Penelitian Universitas Diponegoro. Tahun IX (34): 1-9.

P. Kamalasanana Pillai, S. Premalatha and S. Rajamony. 2002 “AZOLLA – A sustainable feed substitute for livestock Volume 4 number 1” published in LEISA India

Querubin, L. J., P. F. Alcantara and A. O. Princesa, 1986b Chemical composition of three Azolla species (A. pinnata, A. Caroliniana and A. microphylla) and feeding value of Azolla meal (A. microphylla) in broiler ration. Philippines Agriculturist (Philippines), 69:479-490.

Saskiardi, D. 1986. Pengaruh Pemanfaatan Tumbuhan Azolla sebagai Bahan Pengganti Kacang Hijau dalam Ransum Kelinci Lokal Jantan terhadap Bobot Karkas. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang (Skripsi Sarjana Peternakan).

Singh, P.K. and Subudhi, B.P.R. 1977. Save food, use Azolla as poultry feed. Indian Fmg. 27(1).

Sreemannaryana, D., K. Ramachandraiah, K. M. Sudarshan, N. V. Romanaiah and J. Ramaprasad, 1993. Utilization of Azolla as a rabbit feed. Indian vet. J., 70: 285-286.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar